|
Minggu/ Tanggal |
Misericordias Domini, 19 April 2026 |
|
Evangelium |
Habakuk 3: 10 – 19 |
|
Topik |
Bergembira di Dalam Tuhan / Marlas ni Roha Di Bagasan Jahowa |
I.
PENDAHULUAN DAN LATAR BELAKANG
Di dalam nats Habakuk 3:
10-19 ini, Nabi Habakuk menyampaikan seruannya kepada Tuhan Allah melalui doa yang
bernada ratapan. Nabi Habakuk melakukannya sehubungan dengan situasi dan
kondisi Bangsa Israel terutama Kerajaan Yehuda yang mengalami berbagai
kesulitan setelah pendukung mereka yakni Kerajaan Asyur ditaklukan oleh
Kerajaan Babel. Nabi Habakuk merupakan salah satu nabi-nabi kecil, dia melayani
pada masa-masa menjelang pengasingan ke Babel hingga masa pemerintahan Raja
Yoyakim sekitar tahun 609-597 SM [Bdk. II Raj. 23:35-24:7, literatur lain juga
seperti W.A. VanGemeren menyebut masa nabi Habakuk berkisar tahun 608-598 SM,
W.S. Lasor dkk menyebut pada 625-598 SM].
Kitab
Habakuk berbentuk sastra yang lengkap dan dapat disebut sebagai doa, ratapan
profetis dan lagu. Habakuk berkomunikasi kepada Tuhan Allah, kepada dirinya
sendiri dan menghasilkan sastra yang menekankan kebesaran Tuhan dan ajakan
terhadap umatNya agar mampu bersukacita dalam segala situasi oleh karena Tuhan.
Nabi Habakuk menyampaikan pesan Allah tentang wewenang Tuhan dalam penghukuman
bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah serta umatNya yang tidak melakukan
kehendak Allah. Yehuda yang berada dalam kemerosotan moral dan hubungan
spiritual kepada Allah akan dihukum melalui Bangsa Babel (Orang-orang Kasdim).
Ada
sebab akibat dosa yang berdampak pada kehidupan bangsa pilihan Allah ini. Pada
masa Raja Yoyakim masyarakat Yehuda dipaksa memberikan upeti berupa perak dan
mas kepada Firaun Neko dan lama-kelamaan Yoyakim tunduk terhadap kebijakan-kebijakan
politik Firaun Neko dan berbanding terbalik dengan yang dilakukan oleh Raja
Yosia. Habakuk menentang ketidakadilan yang dibuat oleh Yoyakim serta ketidakbenaran
dalam hukum yang membuat masyarakat ikut melakukan tindakan semena-mena.
Habakuk mengkritisi Raja Yoyakim yang tidak memperdulikan teokrasi, namun Tuhan
Allah seolah-olah membiarkannya.
II.
PENJELASAN
TEKS
Ay.
10-12. Dalam ayat ini Habakuk mengakui kedaulatan Tuhan Allah dengan menyatakan
kelebihan Tuhan Allah atas segala alam semesta dengan menggunakan kata-kata
benda yang sangat pokok seperti Gunung-gunung, air bah, samudera raya, matahari
dan bulan. Benda-benda tersebut digunakan dengan gaya bahasa personifikasi; “...gunung-gunung
gemetar, air bah menderu lalu, samudera raya memperperdengarkan suaranya dan
mengangkat tangannya. ...Matahari, bulan berhenti di tempat kediamannya,...”.
Kata-kata tersebut digunakan untuk menggambarkan bahwa kuasa Tuhan lebih besar
dari sistem kerja alam semesta itu sendiri dan memastikan bahwa kuasa Tuhan
juga lebih besar dari kuasa bangsa-bangsa yang berkuasa tersebut. Habakuk
kembali menekankan kebesaran kuasa Tuhan sebagai harapan bagi umatNya. Dia
menciptakan kembali “optimis” bagi Yehuda yang telah tawar hati. Habakuk
menekankan kedaulatan Tuhan agar manusia semakin rendah hati, sehingga mau
menyandarkan hidupnya terhadap Tuhan.
Ay. 13-14. Di tengah-tengah situasi kesulitan yang saling
bertautan, Habakuk tetap mengajarkan kebenaran tentang Tuhan yang setia pada
janjiNya. Dia hendak memperlihatkan pembelaan Tuhan terhadap umatNya, bahwa
Tuhan akan berjalan maju untuk menyelamatkan umat dan orang yang diurapiNya
beriringan dengan melawan orang-orang fasik secara kontras. Habakuk melawan
pemikiran keliru manusia tentang keadilan Allah dalam penghakiman seperti menjadi
orang yang pesimis hingga tidak percaya oleh karena ketidakadilan dunia. Habakuk
hendak menekankan tidak selamanya Tuhan mengizinkan Yehuda melanggar perjanjian
seperti menyembah berhala, imoralitas, korupsi dan penindasan. Ia membuat 5
seruan celaka bagi orang-orang yang merampas milik orang lain, mengambil laba
yang tidak halal, membangun atas dasar kekerasan dan ketidakadilan, tindakan
asusila serta penyembahan berhala.
Ay. 15-16. Habakuk mengingatkan kembali peristiwa Allah
menyelamatkan umatNya dengan melewati Laut Merah (Paralel Psalmen 77: 20). Hal
itu bertujuan untuk meyakinkan umat agar tidak ragu kepada Allah dan mengharapkan
kejayaan kembali dari Tuhan. Habakuk menunjukkan respon yang sungguh-sungguh dengan
ungkapan: “...gemetarlah
hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan
kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri…”. Respon tersebut telah hilang dalam iman umat Israel, sehingga pandangan
iman mereka tidak lagi tertuju kepada Tuhan. Habakuk juga menunjukkan sikap
yang tepat yakni ketenangan dalam menantikan keadilan dari Tuhan. Sebagaimana
juga sudah disebut dalam Habakuk 2: 4b: “…tetapi orang yang benar itu akan
hidup oleh percayanya”. Respon dan atau sikap yang tepat terhadap Firman
Tuhan inilah yang dapat hilang dan itu terjadi juga pada umat masa kini.
Ay.
17-19. Habakuk berada dalam pergumulan iman yang berat dengan melihat berbagai
kondisi sosial dan spiritual bangsanya, dan rasa prihatin terhadap kejayaan
orang-orang fasik, sehingga pada bagian akhir Kitab Habakuk, dia lebih memilih
untuk mengakui kedaulatan Tuhan dan tetap bergembira di dalam Tuhan. Pada ayat
18 dalam bahasa Ibrani ada 2 kata dasar yang mengungkapkan sukacita yaitu
pertama) עָלַז ('alaz) yang lebih tepat digunakan untuk
menggambarkan ekspresi kegembiraan yang meluap-luap yang diterjemahkan menjadi “bersorak-sorai”
dan kedua) אָגִילָה (’Āghīlāh) yang lebih tepat digunakan untuk
menggambarkan sukacita rohani atau batin yang mendalam yang diterjemahkan
menjadi “beria-ria”. Pada awalnya
Habakuk menunjukkan keraguan akan keadilan Tuhan sebagai Allah yang hidup,
tetapi pada akhirnya dia menyatakan bahwa Tuhan adalah kekuatannya yang
membuatnya bersukacita dengan metafora kaki rusa yang bergerak lincah dan mampu
melewati jalan yang sulit.
III.
REFLEKSI
1.
Menyadari
kembali dan mengakui Kuasa Tuhan. Setiap manusia pernah melihat dan merasakan kuasa Tuhan dalam
hidupnya, tetapi manusia dapat segera lupa akan kuasa Tuhan, sebagaimana dalam
kondisi yang dikritik nats bahwa umat Tuhan memilih untuk menyimpang dari jalan
Tuhan itu sendiri. Lupa akan Tuhan dapat disebabkan oleh karena faktor
eksternal seperti tantangan kehidupan yang sulit seperti: perekonomian yang
sulit, politik yang menindas, hukum yang tidak adil, kehidupan sosial yang
tidak harmonis, dll. Namun iman terhadap Tuhan dapat berkurang karena faktor
internal seperti tidak adanya persekutuan dengan Tuhan, “merasa mampu sehingga
tidak lagi memerlukan Tuhan”, dll. Faktor-faktor tersebut dapat membuat kita
melupakan eksistensi Tuhan dan karyanya dalam hidup manusia. Firman ini
mengajak umat Tuhan agar menyadari kembali dan mengakui kuasa Tuhan dan berlaku
di saat sedang menghadapi penderitaan maupun yang akan datang. Tuhan lebih
berkuasa atas alam maupun atas kuasa-kuasa secara politik yang ada di dunia. Firman
ini sejalan dengan nama Minggu Misericordias Domini yang berarti Kasih Setia Tuhan atau Rahmat Tuhan (Mazmur 33: 5) yang
mengingatkan kita akan kasih Setia Tuhan meskipun manusia seringkali jatuh.
2. Bergembira di Dalam Tuhan. Nats Habakuk 3: 10-19 relevan dengan Topik
Minggu Bergembira di Dalam Tuhan. Sebagaimana teladan yang diberikan oleh
Habakuk yang memilih pendiriannya tetap kepada Tuhan. Dasar sukacita yang telah
ditetapkannya tidak terletak kepada situasi dan kondisi tetapi dasar
sukacitanya ada pada kepercayaan terhadap Tuhan. Bergembira yang sesungguhnya
bukan hanya karena mendapatkan sesuatu yang menyenangkan secara duniawi contoh:
memperoleh uang, kenaikan pangkat atau jabatan, dll, tetapi sukacita yang
tercipta oleh karena rasa syukur kepada Tuhan. Dengan demikian sukacita yang
akan dialami oleh orang percaya tidak tergantung kepada situasi duniawi.
3. Rancangan Keselamatan Tuhan. Bagi umat Israel berita penghukuman yang
berlanjut kepada pengasingan mempunyai makna untuk mengingatkan kembali janji
setia Tuhan kepada umat manusia dan juga janji setia manusia kepada Tuhan. Segala jalan dapat dipakai oleh Tuhan untuk
rancangan keselamatan, Tuhan dapat menggunakan orang asing untuk menunjukkan
kuasanya. Dia juga dapat menggunakan situasi penderitaan dan kesulitan untuk
mengajari manusia sekaligus menunjukkan keberadaanNya. Firman Tuhan dapat
menyenangkan, menghibur dan memotivasi tetapi Firman Tuhan dapat menegur
kesalahan agar manusia bertobat. Semua peristiwa dalam kehidupan dapat
digunakan untuk melihat rancangan keselamatan dari Tuhan.